Tampilkan postingan dengan label Jurnalis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnalis. Tampilkan semua postingan
BERITA yang banyak muncul dalam media massa, pada dasarnya dapat digolongkan atas tiga macam, yaitu berita langsung (straight news), berita ringan (soft news) dan berita kisah (feature).
Berita langsung dibuat untuk menyampaikan kejadian-kejadian yang harus secepatnya harus diketahui pembaca. Prinsip penulisannya adalah dengan piramida terbalik, yaitu unsur-unsur terpenting dituliskan pada bagian pembukaan berita, berikutnya sekadar paparan dan penutup.
Tujuan penulisan semacam ini adalah menceritakan berita secara cepat, jelas dan ringkas.
Berita langsung juga bisa disebut spot-news. Sebagai berita yang bersifat "spot" maka dalam menulisnya penulis harus berhadapan langsung dengan kejadian.
Jika tak dapat dihadapi langsung maka ia terpaksa "meminjam" persepsi orang lain terhadap kejadian tersebut, untuk kemudian merekonstruksinya. Teknik “meminjam” persepsi ini dilakukan dengan wawancara.
Aktualitas merupakan unsur penting untuk berita langsung. Suatu kejadian yang sudah lama terjadi, tidak bernilai lagi ditulis sebagai berita langsung. Namun, jika ada unsur kuat lainnya, bisa ditulis sebagai berita ringan atau kisah.
Beberapa lama kejadian dapat dianggap aktual? Sangat tergantung dari banyak hal.
Untuk surat kabar harian, kejadian kemarin dapat dianggap aktual selama belum dimuat di surat kabar lain. Bisa juga kejadian yang sudah berusia dua hari bahkan seminggu tetap dianggap aktual karena baru saja diketahui. Misalnya gempa bumi di pedalaman Irian Jaya.
Penerbit yang tidak bersaing dalam hal aktualitas, harus mencari unsur lain yang terdapat dalam suatu kejadian, antara lain dengan memberikan latar belakang yang sifatnya manusiawi, apa yang mungkin terjadi selanjutnya, atau apa yang harus dilakukan pembaca terkait kejadian tersebut.
Berita ringan tidak mengutamakan unsur penting. Berita ini biasa ditemukan sebagai kejadian yang manusiawi dalam kejadian penting. Kejadian yang penting tersebut dituliskan sebagai berita langsung, sedang yang menyangkut unsur manusiawi ditulis sebagai berita ringan.
Prinsip penulisannya tidak terikat pada teknik piramida terbalik. Sebab yang ditonjolkan bukan unsur penting dalam kejadiannya, tetapi yang menarik perasaan pembaca. Berita jenis ini dapat "bertahan" lebih lama, tidak terikat pada aktualitas.
Jenis berita ini memberikan ganjaran psikologis yang langsung bagi pembacanya, misalnya keterharuan, kegembiraan, dan sebagainya. Dilihat dari sisi pembaca, antara berita ringan dan berita kisah tidak dapat dibedakan. Yang berbeda hanyalah bahan baku yang ditulis. Bahan yang ditulis sebagai berita ringan adalah kejadian pada permukaan saja, tidak perlu melacak latar belakang kejadian tersebut.
Berita kisah, ialah tulisan yang mengenai kejadian yang dapat mengentuh perasaan ataupun menambah pengetahuan pembaca. Berita ini tidak berikat akan aktualitas sebab nilai utamanya terletak dalam unsur manusiawinya.
Dalam perkembangan berikutnya, teknik penulisan berita langsung, berita soft dan berita kisah ini, sering dipadukan dalam sebuah laporan menyeluruh dan diturunkan dalam saat yang bersamaan. Inilah yang kemudian dikenal dengan istilah depth news atau investigative news di mana seluruh data dan informasinya diperoleh melalui depth reporting atau investigative reporting.
Dengan demikian, depth reporting atau investigative reporting adalah teknik pencarian data dan informasi terkait apa yang akan diberitakan, sementara depth news atau investigative news adalah berita yang dihasilkan melalui depth reporting atau investigative reporting. Kedalaman sebuah berita dapat dilihat dari kelengkapan data dan informasinya, dapat juga dilihat dari kebaruannya, dalam arti sesuatu yang baru itu didapat setelah melalui proses penelusuran yang mendalam.
Ingat, panjang tidaknya sebuah tulisan, bukan patokan mendalam atau tidaknya sebuah berita.
Sumber@ arief permadi
KATA orang, pers sudah ada sejak lama. Cikal bakalnya muncul sejak zaman Romawi Kuno (59 SM). Sejumlah catatan sejarah menyebutnya sebagai Acta Diurna, semacam jurnal yang beritanya masih ditulis tangan alias tak dicetak.
Sekalipun cikal bakalnya ada di Romawi, koran edisi cetak sendiri ternyata tak muncul di sana untuk kali pertama. Koran edisi cetak pertama justru dikenal di Cina, bernama Di Bao (Ti Bao) yang terbit sekitar tahun 700-an. Tentu, jangan membayangkan bahwa koran itu mulus dan cantik seperti yang kita lihat setiap hari sekarang, sebab Di Bao dicetak dengan menggunakan balok kayu yang dipahat. Hurufnya aksara Cina. Ahli sejarah sepakat bahwa Di Bao adalah koran pertama di dunia yang sudah dicetak.
Selain hurufnya yang masih kasar, bentuk koran zaman dulu juga juga tak seperti sekarang yang terdiri atas berlembar-lembar halaman. Bentuk koran pada zaman dulu masih sangat sederhana, masih berupa lembaran berita atau disebut newssheet.
Dari sisi isi, juga lebih banyak berkaitan dengan dunia bisnis para banker serta pedagang dari Eropa. Termasuk koran berikutnya, Notize Scritte yang terbit di Venesia, Italia. Saat itu, koran lembaran ini biasanya banyak dipasang di tempat umum. Namun, untuk membacanya warga harus membayar 1 gazzeta. Dari sanalah, konon, muncul istilah gazette yang dalam perkembangannya diartikan sebagai koran.
Era kebangkitan koran lantas terjadi menyusul penemuan mesin cetak oleh Johan Gutenbergh pada pertengahan abad XV. Penemuan mesin yang memudahkan proses produksi ini memicu terbitnya koran-koran di Eropa, sekalipun prosesnya tak sekaligus.
Awalnya, lembar berita yang terbit tidak teratur dan memuat cuma satu peristiwa yang saat itu sedang terjadi. Koran berkala muncul tahun 1609 dengan terbitnya mingguan Avisa Relation oder Zeitung di Jerman. Berikutnya terbit pula Frankfurter Journal (1615). Sampai kemudian lahir Leipzeiger Zeitung (1660), juga di Jerman, yang mula-mula mingguan, kemudian jadi harian. Inilah koran harian pertama di dunia.
Koran lainnya yang kemudian muncul adalah The London Gazette yang terbit di Inggris tahun 1665. Namun koran yang pertama terbit secara harian di Inggris adalah The London Daily Courant (1702), disusul The Times yang terbit sejak abad XVII dan yang pertama kali memakai sistem cetak rotasi.
Diposting oleh arief permadi di 21:40 0 komentar
Label: Pers dari Masa ke Masa
Peliputan Berita
PELIPUTAN sebuah fakta yang dianggap penting dan menarik bagi pembaca, hanya akan terjadi jika ada dua faktor berikut: 1. Orang yang meliput. 2. fakta yang diliput.
Untuk membuat sebuah rekonstruksi yang lengkap dari fakta yang kita anggap penting dan menarik, tiga hal berikut menjadi syarat yang harus dipenuhi seorang pewarta: observasi, wawancara, dan studi pustaka.
Observasi dilakukan untuk melihat berbagai fakta yang ada terkait objek yang diliput. Tak jarang, fakta-fakta itu tercecer, terlihat dengan jelas atau tersembunyi di balik fakta lainnya yang terkadang sama sekali tak berkaitan dengan objek yang diliput. Karena itu menjadi wajib bagi seorang wartawan untuk mempunyai kemampuan melakukan pengenalan dan pemilahan berbagai fakta tersebut.
Pada kenyataannya, tidak pada semua kesempatan, seorang wartawan berada di lokasi saat sebuah peristiwa (baca: rangkaian berbagai fakta yang memiliki kaitan antara satu dengan lainnya) muncul atau terjadi. Agar peristiwa tersebut bisa direkonstruksi, maka wartawan harus meminjam penglihatan saksi mata dengan cara bertanya kepada mereka. Bertanya untuk keperluan tersebut, adalah apa yang kita kenal dengan wawancara. Sementara orang yang diwawancara, kita kenal dengan sebutan nara sumber.
Agar berbagai sudut dari objek peliputan kita ter-cover dengan baik, usahakan melakukan wawancara dengan lebih dari satu nara sumber. Untuk memperkuatnya, lengkapi pula dengan pendapat, tinjauan, ulasan, dan persepsi pihak-pihak (narasumber) yang terkait tentang fakta tersebut.
Dalam banyak hal, hasil yang diperoleh dari observasi dan wawancara (informasi, data, serta pendapat dan persepsi nara sumber) acapkali sudah (dianggap) cukup untuk direkonstruksi (baca: dibuat berita). Namun karena tidak ditunjang oleh data dan fakta terkait lain yang menunjang, berita yang direkonstruksi atas obresvasi dan wawancara seringkali tak mendalam, tak mempunyai pesan; sekadar sebuah berita.
Tak heran, kebanyakan wartawan senior selalu mempunyai database tentang berbagai peristiwa, analisis fakta dan sebagainya. Sehingga fakta sesederhana dan sekecil apapun akan menjadi sangat kuat jika ditangani oleh wartawan yang bersangkutan.
Setiap berita, baik langsung, ringan maupun kisah, selamanya berisikan fakta-fakta yang menyangkut paling tidak enam pertanyaan pokok, yaitu: apa, siapa, mengapa, di mana, kapan dan bagaimana.
Apa yang terjadi?
Siapa (-siapa) yang terlibat dalam kejadian?
Mengapa (apa yang menyebabkan) kejadian itu timbul?
Di mana kejadian itu?
kapan kejadian?
Bagaimana kejadiannya (duduk perkaranya)?
Pertanyaan APA yang terjadi, akan menyebabkan sang jurnalis mengumpulkan fakta yang berkaitan dengan hal-hal yang dilakukan oleh pelaku maupun korban dalam satu kejadian. Hal yang dilakukan tersebut dapat berupa penyebab suatu kejadian, tapi bisa juga berupa akibat. Yang penting diketahui bahwa nilai APA itu menentukan unsur layak berita yang ada di dalamnya.
Kejadian kecelakaan bus misalnya, merupakan APA dalam suatu berita. Kejadian ini merupakan akibat suatu tindakan. Jadi akibat itulah yang menjadi APA.
Berbeda dengan keputusan pemerintah daerah untuk menutup panti pijat. Tindakan ini jadi penyebab timbulnya kejadian-kejadian lain. Tapi dalam kaitan ini, penyebab itu yang menjadi APA dalam berita. Pertanyaan APA yang terjadi memang tidak banyak memberikan jawaban fakta. Karena itu harus disusul dengan pertanyaan yang lain.
SIAPA, merupakan pertanyaan yang mengundung fakta yang berkaitan dengan setiap orang yang terlibat dalam kejadian. Orang yang diberitakan harus dapat diindentifikasi nama, umur, pekerjaan, dan atribut-atribut lain yang melekat padanya. Semakin banyak fakta yang terkumpul menyangkut orang yang bersangkutan, semakin lengkaplah berita yang ditulis.
MENGAPA, akan mengundung jawaban latar belakang dari suatu tindakan ataupun penyebab kejadian yang telah diketahui APA-nya. Jika APA-nya adalah kejadian kecelakaan bus, maka MENGAPA-nya adalah hal-hal yang menyebabkan terjadi kecelakaan itu.
DI MANA, menyangkut tempat kejadian. Nama tempat harus dapat diidentifikasi dengan jelas sehingga pembaca memperoleh gambaran mengenai tempat yang disebutkan. Ciri-ciri tempat ataupun karakteristik tempat kejadian merupakan hal yang penting pula untuk diberitakan.
Pertanyaan KAPAN akan menyangkut waktu kejadian ataupun kemungkinan-kemungkinan waktu yang berkaitan dengan kejadian tersebut. Waktu, ada yang sudah terjadi, dan ada yang akan terjadi; kedua hal ini akan jadi fakta dalam berita.
Waktu yang sudah lama berlalu tidak punya nilai lagi, karenanya harus dicari nilai lain dalam kejadian tersebut kalau akan diberitakan. Misalnya, oknum polisi yang menyiksa warga desa, sudah lama berlangsung. Kalau mau diberitakan, harus dicari unsur layak berita lain yang terkandung dalam kejadian itu, seperti unsur manusiawi, dan sebagainya.
BAGAIMANA, akan memberitakan fakta yang berkaitan dengan proses kejadian yang diberitakan. Bagaimana terjadinya suatu kejadian, bagaimana pelaku melakukan perbuatannya atau bagaimana korban mengalami nasibnya.
Untuk berita kisah, unsur waktu (KAPAN) tidak penting. Maka yang ditampilkan adalah latar belakang manusia yang terlibat dalam kejadian. Latar belakang ITU terutama yang menyangkut perasaan, watak, motif dan ambisi ataupun penghayatan dramatis seseorang dapat menciptakan situasi manusiawi dari orang yang ditulis. Dengan demikian latar belakang manusiawi ini merupakan ciri utama dalam berita kisah.
Dalam perkembangannya, enam pertanyaan pokok tadi melebar pada dua pertanyaan lain yang didasarkan pada kepentingan pembaca, yakni apa yang mungkin terjadi kemudian, serta apa yang harus dilakukan pembaca atas kejadian tersebut.
Dua pertanyaan pokok inilah yang secara otomatis membuat wartawan melakukan pencarian data dan informasi dengan lebih mendalam untuk membuktikan hipotesisnya serta memberikan panduan pada pembacanya tentang apa yang sebaiknya dilakukan. Proses pencarian inilah yang belakangan dikenal dengan sebutan liputan investigasi. Teknik liputan yang oleh banyak ahli sering diartikan secara sempit, hanya pada jenis peristiwa yang terkait dengan kejahatan.
Sumber"arief permadi
PENGERTIAN MANAJEMEN
DALAM pengertian sederhana, manajemen adalah tindakan yang dilakukan untuk membuat sumber daya yang ada dapat berfungsi secara maksimal untuk mencapai tujuan tertentu. Tindakan tersebut meliputi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (acting) dan pengawasan (controling).
Karena inti dari manajemen adalah pemaksimalan fungsi dari sumber daya yang ada, tak ada patokan yang benar-benar baku yang harus dilakukan. Semuanya harus dirancang sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, kondisi dan karakteristik sumber daya yang ada.
Hal tersebut, berlaku pula dalam manajerial media massa. Karena itu, sekalipun pada intinya sama, setiap perusahaan media menerapkan sistem manajemen yang tampak berbeda antara satu dengan lainnya.
Manajemen media massa sendiri secara umum terbagi atas dua bagian besar, yakni bagian redaksi dan perusahaan. Redaksi membawahi semua kegiatan yang berhubungan dengan produk, yakni berita, mulai dari perencanaan peliputan, pencarian berita, pengolahan data, pecancangan halaman dan layout, . Sementara perusahaan membawahi segala kegiatan terkait pemasaran produk, produksi, promosi, sirkulasi, iklan, pengelolaan SDM, berbagai perjanjian kerjasama, dan sebagainya. Semua kegiatan baik pada bagian redaksi maupun perusahaan, dipimpin oleh seorang pemimpin umum.
Dalam kata lain, pemimpin umum bertanggung jawab menjalankan organisasi perusahaan secara keseluruhan, memegang otoritas tertinggi dari seluruh kegiatan yang ada di dalam perusahaan, membawahi semua unit, baik yang ada di dalam lingkup keredaksian maupun perusahaan, namun pada kondisi tertentu tetap menjalankan fungsi kewartawanan dalam porsi yang disesuaikan.
Karena tugas dan wewenang yang begitu besar dari seorang pemimpin umum, mereka yang berada pada posisi ini selalu dibantu oleh seorang pemimpin redaksi dan seorang pemimpin perusahaan. Jika dibuat perumpamaan, keduanya merupakan tangan kiri dan tangan kanan pemimpin umum, di mana yang satu tidak lebih penting dari yang lain.
REDAKSI
PADA bagian ini, pemimpin redaksi – lah yang memiliki otoritas tertinggi. Ia bertanggung jawab menjalankan organisasi keredaksian sehari-hari, dan pada kondisi tertentu tetap menjalankan fungsi kewartawanan dalam porsi yang disesuaikan.
Ia juga bertugas melakukan pengawasan dan pembinaan pada unit kerja yang berada di bawahnya, yakni redaktur pelaksana, koordinator peliputan, manajer produksi, para redaktur, wartawan, layouter, design grafis, hingga tenaga pracetak. Pemimpin redaksi, bertanggung jawab pada pemimpin umum.
Secara garis komando, koordinator peliputan berada setingkat dengan manajer produksi. Keduanya bertanggungjawab pada redaktur pelaksana.
Koordinator peliputan membawahi redaktur dan wartawan. Sementara redaktur, membawahi wartawan, baik itu wartawan tulis maupun wartawan foto.
Manajer produksi adalah penguasa tertinggi pada saat produksi. Pada saat itu, ia membawahi pengelola halaman, para editor, layouter, dan tenaga pracetak. Ia juga bertanggung jawab untuk memastikan bahwa produk yang dibuat akan laku di pasaran, sekaligus aman.
Selain semua unit kerja tadi, Salah satu unit kerja yang tak kalah penting adalah sekretaris redaksi. Ia bertanggung jawab atas perencanaan, pengadaan, pengembangan dan keuangan redaksi. Ia juga bertanggung jawab atas pengadaan tenaga di redaksi serta sarana pendukungnya. Ia pula yang menyelenggarakan kegiatan monitoring prestasi wartawan serta membuat evaluasi hasil kerja wartawan/koresponden.
Namun, di samping serangkaian tugas berat tadi, sekretaris redaksi juga bertugas menyampaikan berbagai informasi dan perkembangan baik di dalam maupun di luar redaksi pada pemred dan redpel. Ia bertugas mengatur, menyelenggarakan dan menghadiri rapat-rapat redaksi. Menangani administrasi agenda keredaksian dan perencanaan peliputan, serta bertanggung jawab pada pemred dan redpel.
Pemimpin Redaksi
Bertanggung jawab menjalankan organisasi keredaksian sehari-hari
Memegang otoritas dan garis komando (line command) keredaksian
Membawahi semua unit divisi redaksi
Pada kondisi tertentu tetap menjalankan fungsi kewartawanan dalam porsi yang disesuaikan.
Melakukan pengawasan dan pembinaan pada unit kerja di bawahnya.
Bertanggung jawab pada pemimpin umum
Redaktur Pelaksana
Bertanggung jawab atas kegiatan operasional redaksi sehari-hari
Membawahi dan mengoordinasikan kegiatan beberapa unit menajerial di bawahnya, seperti koordinator peliputan, manajer produksi dan sekretaris redaksi.
Menjabarkan dan mengawasi pelaksanaab konsep media yang telah digariskan dalam perencanaan peliputan, penulisan hingga penyajiannya.
Menyusun rencana kerja redaksi per empat bulan, enam bulan, dan atau per tahun.
Bertanggung jawab atas perencanaan dan pengembangan tenaga di redaksi.
Menyelenggarakan rapat evaluasi di antara beberapa unit manajerial yang dibawahinya, setidaknya sekali dalam seminggu, atau sebulan atau dalam batas waktu yang disepakati.
Pada kondisi tertentu, tetap menjalankan fungsi kewartawanan dalam porsi yang disesuaikan..
Melakukan pengawasan dan pembinaan pada unit kerja di bawahnya.
Bertanggung jawab pada pemimpin redaksi.
Koordinator Peliputan
Bertanggung jawab terhadap peliputan seluruh desk/bidang/halaman
Menyusun perencanaan peliputan bersama redaktur, baik peliputan sehari-hari, mingguan, bulanan atau enam bulanan.
Menjabarkan dan mengawasi pelaksanaankonsep media yang telah ditentukan sejak perencanaan peliputan, penulisan hingga penyajiannya dalam tiap halaman.
Memberi arah liputan, serta memperkaya visi redaktur dan reporter.
Dalam kondisi tertentu di mana redaktur berhalangan, wajib menjalankan fungsi redaktur setelah lebih dahulu berkonsultasi dengan redaktur pelaksana, pemred atau yang mewakilinya.
Menyelenggarakan rapat evaluasi dengan para redaktur paling tidak dua minggu sekali.
Pada kondisi tertentu tetap menjalankan fungsi kewartawanan dalam porsi yang disesuaikan
Menjalankan fungsi pengawasan dan pembinaan pada unit kerja yang dibawahinya.
Bertanggung jawab pada redaktur pelaksana.
Manager Produksi
Bertanggung jawab atas proses produksi, mulai dari perencanaan hingga tahap pracetak, termasuk penugasan reporter setelah berkoordinasi dengan koordinator peliputan dan redaktur.
Membawahi seluruh unit kerja produksi termasuk penyuntingan, komposing, tata wajah, design grafis, reproduksi, dan angkutan plat ke percetakan.
Bertanggung jawab atas dead line setiap tahapan produksi.
Bertanggung jawab atas penyelenggaraan kebijakan politik redaksional pada kegiatan penyuntingan.
Menyampaikan evaluasi tulisan/foto/ilustrasi/grafis selepas produksi sebagai masukan bagi kegiatan perencanaan dan evaluasi yang dilakukan koordinator peliputan /para redaktur.
Mengawasi penyelenggaraan konsep media pada desain layout setiap halaman.
Melakukan komunikasi yang terus menerus dengan koordinator peliputan dan para redaktur untuk mengikuti perkembangan berita.
Memimpin rapat budgetting
Menyelenggarakan rapat evaluasi di antara unit-unit kegiatan produksi paling tidak sekali dalam dua minggu.
Pada kondisi tertentu tetap menjalankan fungsi kewartawanan dalam porsi yang disesuaikan.
Menjalankan fungsi pengawasan dan pembinaan pada unit kerja yang dibawahinya.
Bertanggung jawab pada redaktur pelaksana
Sekretaris Redaksi
Bertanggung jawab atas perencanaan, pengadaan, pengembangan dan keuangan redaksi
Bertanggung jawab atas pengadaan tenaga di redaksi serta sarana pendukungnya
Menyelenggarakan kegiatan monitoring prestasi wartawan serta membuat evaluasi hasil kerja wartawan/koresponden
Menyampaikan berbagai informasi dan perkembangan baik di dalam maupun di luar redaksi pada pemred dan redpel.
Menyelenggarakan dan menghadiri rapat-rapat redaksi
Menangani administrasi agenda keredaksian dan perencanaan peliputan.
Bertanggung jawab pada pemred dan redpel.
Redaktur Bidang
Membawahi dan mengkoordinasi wartawan dan koresponden.
Membuat perencanan sehari-hari, baik mengenai hal baru, follow up, maupun penggalian suatu topik/isu yang telah, belum atau sedang diberitakan sesuai dengan bidangnya masing-masing.
Memberi arahan (konsultasi) dan pengawasan kepada para reporter atas rencana liputan, penyelenggaraan lapangan, serta hasil liputan, seperti menentukan dan mempertajam angle (sudut pandang), lead (teras berita), kelengkapan data termasuk dukungan data dokumentasi/kepustakaan, menambah wawasan penyajian, dan menentukan pembuatan ilustrasi, foto dan grafis.
Melakukan editing dari setiap tulisan, foto, ilustrasi dan grafis.
Menurunkan berita dan kelengkapannya sesuai jadwal.
Menurunkan tulisan, foto, caption foto, ilustrasi dan grafis yang aman, menarik dan tajam sekaligus bersih dari kesalahan ketik.
Menyangkut tulisan/foto yang dibuat sendiri oleh redaktur, demi etika dan filterisasi, wajib dibaca dahulu oleh koordinator peliputan, manpros atau redaktur pelaksana.
Memberi masukan pada petugas tata wajah/layout dalam memdesain halam.
Bertanggung jawab penuh atas berita/ foto/ilustrasi/grafis yang diturunkan sesuai bidangnya masing-masing.
Menyelenggarakan rapat evaluasi sekali dalam seminggu (atau dalam waktu yang disepakati), terutama menyangkut kualitas pemberitaan dan penerapan konsep media. Khusus desk daerah, diselenggarakan setidaknya satu bulan sekali seminggu (atau dalam waktu yang disepakati), baik secara terlulis maupun lisan.
Memberikan masukan pada korlip maupun sekred secara periodik mengenai perkembangan prestasi kerja wartawan/koresponden.
Menghadiri rapat budgetting.
Pada kondisi tertentu tetap menjalankan fungsi kewartawanan dalam porsi yang disesuaikan.
Menjalankan fungsi pengawasan dan pembinaan pada unit kerja yang dibawahinya.
Bertanggung jawab pada koordinator peliputan.
Redaktur Foto
Melaksanakan tugas koordinasi dengan para fotografer
Bersama koordinator peliputan dan atau manajer produksi membuat perencanaan foto untuk master tiap halaman.
Bersama redaktur bidang ikut membuat perencanaan pembuatan foto-foto baik sebagai pendukung liputan maupun foto lepas,
Wajib mengikuti rapat budgeting dan melaporkan hasil foto yang diperoleh.
Wajib memenuhi permintaan foto baik dari redaktur bidang, manprod, korlip maupun redpel.
Menyelenggarakan rapat evaluasi bersama korlip dan redpel mengenai hasil foto yang diperoleh secara berkala.
Menyelenggarakan rapat koordinasi dengan bagian dokumentasi terkait pengarsipan foto-foto yang diperoleh.
Bertanggung jawab pada korlip.
H. Reporter/Koresponden
Melakukan kegiatan reportase dan menuliskannya sesuai dengan konsep media yang telah ditentukan, baik atas inisiatif sendiri maupun penugasan dari redaktur bidang atau koordinator peliputan.
Membuat rencana peliputan, baik harian, mingguan atau bulanan,dan mengajukannya pada redaktur bidang masing-masing.
Wajib mengikuti proyeksi yang dilakukan redaktur.
Wajib mempelajari dan menambah wawasan mengenai topik masalah yang akan diliput dengan berkonsulatsi terlebih dahulu denganredaktur bidang masing-masing.
Wajib mendaftarkan atau melaporkan perkembangan hasil di lapangan pada redaktur. Untuk hal-hal tertentu, pelaporan perkembangan dilakukan jam demi jam, atau bahkan lebih sering.
Wajib berkonsultasi dengan redaktur masing-masing terkait hasil liputan di lapangan. Hal-hal yang dikonsultasikan meliputi pemilihan angle, lead, bentuk penyajian, kebutuhan grafis, ilustrasi, dan hal teknis lainnya.\
Wajib melengkapi dan menyempurnakan bahan-bahan tulisan yang diperoleh dari lapangan dengan bahan/dokumentasi kepustakaan.
Wajib semaksimal mungkin membersihkan tulisannyang dibuatnya dari kesalahan ketik, penalaran dan logika.
Jika diminta, wajib mendampingi redaktur pada saat editing.
Jika mengetahui ada peristiwa/informasi pentng baik di bidang yang ia garap maupun di luar bidang yang ia garap, wajib melaporkannya pada redaktur/korlip pada kesempatan pertama.
Bertanggung jawab pada redaktur bidang masing masing.
BAGIAN PERUSAHAAN
BAGIAN ini dipimpin oleh seorang pemimpin perusahaan. Dalam melaksanakan tugasnya ia dibantu oleh para manager, seperti manajer umum, manajer PSDM, iklan, promosi dan sirkulasi.
Secara umum, pemimpin perusahaan bertanggungjawab atas kelangsungan perusahaan, terutama dari sisi finansial. Ia juga bertanggung jawab atas ketersediaan dan terpeliharannya sumber daya. Menjalankan fungsi pengawasan dan pembinaan pada unit kerja yang dibawahinya, terus berkoordinasi dengan pemimpin redaksi dalam menjalankan kegiatannya yang berhubungan dengan keredaksian, bertanggung jawab pada pemimpin umum.
Terkait rumah tangga perusahaan, seorang pemimpin perusahaan dibatu oleh menejer umum. Ia bertanggung jawab dalam mengurusi pengadaan dan pemeliharaan barang, merchandise, dan sebagainya. Dalam melaksanakan tugasnya, ia berkoordinasi dengan bagian lain, dan dapat mendelegasikan wewenangnya pada bagian lain sesuai porsinya masing-masing.
Untuk segala sesuatu yang berkaitan dengan sumber daya manusia, pemimpin perusahaan dibantu oleh seorang manajer PSDM (pengembangan sumber daya manusia). Menejer ini bertanggung jawab atas segala hal yang berkaitan dengan SDM. Bertanggung jawab mengatur masalah rekruitmen, penilaian dan penghentian karyawan, mengatur kebijakan libur, cuti, sakit, dan sebagainya. Dalam melaksanakan tugasnya, ia berkoordinasi dengan bagian lain, dan dapat mendelegasikan wewenangnya pada bagian lain sesuai porsinya masing-masing.
Hal yang saja juga berlaku untuk segala sesuatu yang berkaitan dengan iklan. Untuk urusan ini pemimpin perusahaan dibantu oleh seorang manajer iklan, yang bertugas membuat berbagai terobosan, yang intinya dapat meningkatkan pendapatan perusahaan dari sektor yang dikendalikannya. Dalam melaksanakan tugasnya, seorang menejer iklan wajib berkoordinasi dengan bagian lain, dan dapat mendelegasikan wewenangnya pada bagian lain sesuai porsinya masing-masing.
Terkait masalah promosi, pemimpin perusahaan juga dibantu oleh seorang menejer. Menejer promosi ini bertanggung jawab membuat berbagai terobosan yang intinya dapat meningkatkan citra produk dan perusahaan, yang pada akhirnya dapat mendongkrak pemasukan baik dari sisi iklam maupun penjualan. Dan seperti yang lain, dalam melaksanakan tugasnya, menejer promosi wajib berkoordinasi dengan bagian lain, dan dapat mendelegasikan wewenangnya pada bagian lain sesuai porsinya masing-masing.
Tugas penting lainnya yang dibebankan pada pemimpin perusahaan adalah masalah sirkulasi. Karena itu, untuk hal tersebut pemimpin perusahaan dibantu seorang menejer yang bertanggung jawab atas penyebaran dan penjualan produk. Menejer ini harus mampu membuat berbagai terobosan hingga produknya benar-benar tersebar di pasaran dan terjual baik di tingkat eceran maupun pelanggan. Sementara dalam melaksanakan tugasnya, menejer tersebut tetap harus berkoordinasi dengan bagian lain, dan dapat mendelegasikan wewenangnya pada bagian lain sesuai porsinya masing-masing.
Bagian yang juga tak kalah penting harus ada adalah sekretaris perusahaan. Melalui dirinya serangkaian surat-surat masuk dan keluar, melalui dirinyalah semua rapat-rapat terkait perusahaan terkoordinasi dan terselenggara dengan baik. Ia juga menjalankan fungsi-fungsi public relation, dan melakukan beragam terobosan dengan tujuan menciptakan kenyamanan komunikasi, baik antara karyawan dengan karyawan, karyawan dengan atasan, atau antara perusahaan dan pihak lain.
Pemimpin Perusahaan
Bertanggungjawab atas kelangsungan perusahaan, terutama dari sisi finansial.
Ia juga bertanggung jawab atas tersedia dan terpeliharannya sumber daya.
Menjalankan fungsi pengawasan dan pembinaan pada unit kerja yang dibawahinya
Bertanggung jawab pada pemimpin umum.
B. Manajer Umum
Bertanggung jawab atas kelangsungan rumah tangga perusahaan.
Bertanggung jawab dalam mengurusi pengadaan dan pemeliharaan barang, merchandise, dan sebagainya.
Dalam melaksanakan tugasnya, ia berkoordinasi dengan bagian lain, dan dapat mendelegasikan wewenangnya pada bagian lain sesuai porsinya masing-masing.
Menjalankan fungsi pengawasan dan pembinaan pada unit kerja yang dibawahinya
Bertanggung jawab pada pemimpin perusahaan.
C. Manajer PSDM
Bertanggung jawab atas segala hal yang berkaitan dengan SDM.
Bertanggung jawab mengatur masalah rekruitmen dan penilaian dan penghentian karyawan, mengatur kebijakan libur, cuti, sakit, dan sebagainya.
Dalam melaksanakan tugasnya, ia berkoordinasi dengan bagian lain, dan dapat mendelegasikan wewenangnya pada bagian lain sesuai porsinya masing-masing.
Menjalankan fungsi pengawasan dan pembinaan pada unit kerja yang dibawahinya
Bertanggung jawab pada pemimpin perusahaan.
D. Manajer Iklan
Bertanggung jawab pada segala hal yang berkaitan dengan iklan.
Membuat berbagai terobosan, yang intinya dapat meningkatkan pendapatan perusahaan dari sektor yang dikendalikannya.
Dalam melaksanakan tugasnya, ia berkoordinasi dengan bagian lain, dan dapat mendelegasikan wewenangnya pada bagian lain sesuai porsinya masing-masing.
Menjalankan fungsi pengawasan dan pembinaan pada unit kerja yang dibawahinya
Bertanggung jawab pada pemimpin perusahaan.
E. Manajer Promosi
Bertanggung jawab pada segala hal yang berkaitan dengan promosi.
Membuat berbagai terobosan yang intinya dapat meningkatkan citra produk dan perusahaan, yang pada akhirnya dapat mendongkrak pemasukan baik dari sisi iklam maupun penjualan.
Dalam melaksanakan tugasnya, ia berkoordinasi dengan bagian lain, dan dapat mendelegasikan wewenangnya pada bagian lain sesuai porsinya masing-masing.
Menjalankan fungsi pengawasan dan pembinaan pada unit kerja yang dibawahinya
Bertanggung jawab pada pemimpin perusahaan.
F. Manajer Sirkulasi
Bertanggung jawab atas penyebaran dan penjualan produk.
Melakukan berbagai terobosan hingga produknya benar-benar tersebar di pasaran dan terjual baik di tingkat eceran maupun pelanggan.
Dalam melaksanakan tugasnya, ia berkoordinasi dengan bagian lain, dan dapat mendelegasikan wewenangnya pada bagian lain sesuai porsinya masing-masing.
Menjalankan fungsi pengawasan dan pembinaan pada unit kerja yang dibawahinya
Bertanggung jawab pada pemimpin perusahaan.
Sumber@arief permadi

Kata orang, tak ada teman sejati dalam dunia politik.
Yang ada hanyalah sekutu, dan jika yang ada bukan sekutu,
maka yang dihadapi adalah musuh…
Pengantar
AJANG pemilihan kepala daerah (pilkada), pemilihan presiden (pilpres), maupun pemilihan anggota parlemen (legislatif) di mana pun pesta demokrasi itu digelar, pada hakikatnya adalah peperangan. Seperti halnya bentuk-bentuk peperangan lainnya, ada tiga hal yang menjadi penentu kemenangan. Pertama para pelakunya, kedua senjata yang digunakan, dan ketiga, strategi yang diterapkan.
Pada ajang pilkada, pilpres, maupun pemilu legislatif, para pelaku adalah semua yang terlibat, termasuk para anggota tim sukses. Dalam sejumlah kasus, tim sukses bahkan memegang peranan kunci karena merekalah yang sesungguhnya melakukan pertarungan di lapangan.
Hal lain yang juga menentukan adalah senjata yang digunakan. Pada pilkada, pilpres, maupun pemilu legislatif senjatanya adalah komunikasi politik. Satu yang biasa digunakan adalah propaganda.
Semakin bagus senjatanya dan semakin mahir para pelaku menggunakan senjata yang dipakai, akan membuat peperangan semakin mungkin dimenangkan. Namun, selain kedua hal tadi, yang juga tak kalah berperan adalah strategi yang harus dipakai. Semakin tepat strategi yang digunakan akan semakin mungkin peperangan dimenangkan.
Paparan berikut, membahas secara detail mengenai ketiga hal penting tadi. Mulai dari pembahasan komunikasi secara umum, komponen-komponen yang terlibat, cara mengatur strategi, memahami feedback, termasuk cara menyikapinya.
Komunikasi
Pengertian Komunikasi
Komunikasi, secara sederhana dapat diartikan sebagai seni mempengaruhi orang, atau kelompok orang, melalui simbol-simbol pesan yang disampaikan komunikator, baik secara verbal maupun non-verbal, langsung maupun tidak langsung kepada komunikan. Dan, propaganda, adalah satu variannya.
B. Komponen Komunikasi
Paling tidak, ada tiga komponen penting dalam komunikasi yang harus kita ketahui, yakni komunikator, pesan, dan komunikan. Namun, dalam bahasan kali ini saya akan menambah dua sub-komponen lain yang tak kalah penting, yakni efek dan reaksi atas efek yang muncul.
Komunikator
Salah-satu kunci keberhasilan proses komunikasi adalah kualitas si penyampai pesan atau komunikator. Semakin tinggi kualitas komunikator, maka akan semakin tinggi kemungkinan keberhasilan proses komunikasi yang dijalankan. Berikut, adalah beberapa hal yang harus dimiliki seorang komunikator agar pesan yang ia sampaikan dapat menimbulkan pengaruh dan perubahan seperti yang diharapkan pada diri komunikan.
Komunikator yang baik haruslah mengenal dirinya sendiri. Ia harus mengenal betul kelebihan dan kekurangannya, serta paham cara memanfaatkan kelebihan dan kekurangan tersebut.
Komunikator yang baik juga harus mengenali komunikannya. Komunikator harus tahu apa latar belakang komunikannya, gaya bahasanya, kegemarannya, kondisi lingkungannya, kebiasaannya, keinginannya, dan cara berpikirnya.
Komunikator yang baik, juga dituntut memiliki pengetahuan yang luas, terutama seputar pesan yang ia sampaikan. Ia harus memiliki pemahaman terkait isi pesan yang akan disampaikan, kenapa pesan itu disampaikan, serta efek seperti apa yang diharapkan dari upaya penyampaian pesan tersebut.
Pesan
Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan terkait pesan ini, yaitu isi pesan, bentuk pesan, kemasan, tujuan, sasaran, media penyampaian, dan serta metoda yang dipakai untuk menyampaikannya.
Isi pesan, bisa sangat bervariasi tergantung kebutuhannya. Namun, apa pun isi pesan tersebut haruslah berorientasi pada tujuan perubahan sikap, cara berpikir dan cara bertindak komunikan yang menjadi alasan kenapa pesan itu disampaikan.
Sebuah pesan juga dapat disampaikan dalam bentuk simbol-simbol verbal berupa rangkaian kata atau kalimat, namun bisa juga berupa simbol non verbal berupa isyarat, kode, perubahan mimik, sorot mata, nada suara, tanda baca, dan sebagainya.
Hal lain yang juga penting pada pesan adalah kemasannya. Semakin bagus dan menarik kemasannya, semakin tinggi kemungkinan pesan itu sampai. Kemenarikan kemasan pesan ini juga sangat tergantung dari bahasa, tata bahasa, dan gaya bahasa yang digunakan, yang semuanya harus disesuaikan pula dengan tujuan penyampaian, di mana pesan disampaikan, dan kepada siapa pesan disampaikan.
Di dalam proses penyampaian pesan, tujuan adalah panduan. Semakin fokus dan terarah tujuannya, maka akan semakin besar pula kemungkinan keberhasilan sebuah proses komunikasi.
Pengenalan terhadap sasaran akan memudahkan pesan sampai seperti yang diharapkan.
Penggunaan media dan metoda yang tepat akan meningkatkan efektivitas komunikasi, bahkan sangat menentukan keberhasilannya secara keseluruhan. Media yang dimaksud bisa berupa media tatap muka, atau media massa cetak maupun elektronik. Sementara metoda penyampaian bisa bersifat langsung, tidak langsung, visual, audio, atau audio visual.
Komunikan
Komunikan biasa juga disebut dengan sasaran dalam sebuah proses komunikasi. Komunikan, seberapa pun banyaknya pada hakikatnya adalah individu, yang memiliki kebutuhan, tujuan, hasrat, dan keinginannya sendiri-sendiri. Kebutuhan, tujuan, hasrat, dan keinginan komunikan ini sangat berpengaruh terhadap sikap dan keputusan.
Namun perlu diingat pula bahwa karena seberapa pun banyaknya, komunikan pada hakikatnya adalah individu, faktor penentu sikap dan keputusan mereka pun (kebutuhan, tujuan, hasrat, dan keinginan), menjadi sangat rentan terhadap perubahan. Selain karena faktor latar belakang (budaya, pendidikan, status sosial, dll), perubahan juga trentan dipengaruhi faktor-faktor lainnya, seperti usia, gender, tren, bahkan opini publik berikut euforia yang mengiringinya. Kerentanan inilah yang kemudian seharusnya dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh komunikator.
II. Kampanye dan Propaganda
Pengertian
PADA dasarnya tak ada yang berbeda antara kampanye dan propaganda. Kalau pun, kemudian keduanya tampak berbeda, itu karena pendekatan dan metoda yang dipakainya. Kampanye kerap dinilai lebih bersifat persuasif karena disertai bujukan dan iming-iming. Sementara propaganda, sekalipun dasarnya sangat persuasif, kerap disertai tekanan berupa penonjolan dari dampak buruk yang bisa terjadi jika massa tak bertindak seperti apa yang dipropagandakan. Sekadar menyamakan persepsi, persuasi yang dimaksud tak lain adalah usaha yang disadari untuk mengubah sikap, kepercayaan atau perilaku orang melalui transmisi pesan.
Propaganda sendiri, biasa digunakan oleh suatu kelompok terorganisasi yang ingin menciptakan partisipasi aktif atau pasif dalam tindakan-tindakan suatu massa yang terdiri atas individu-individu, dipersatukan secara psikologis melalui manipulasi psikologis dan digabungkan di dalam suatu organisasi.
B. Tipe Propaganda
Jaques Ellul (dalam Dan Nimmo) menyebutkan, paling tidak terdapat dua tipe propaganda yang bisa dikenali. Pertama, propaganda yang beroperasi melalui imbauan-imbauan khas berjangka pendek. Biasanya melibatkan usaha-usaha pemerintah, partai atau golongan berpengaruh untuk mencapai tujuan strategis atau taktis. Kedua, tipenya berangsur-angsur, merembes ke dalam lembaga-lembaga ekonomi, sosial dan politik.
Melalui propaganda orang disuntik dengan suatu cara hidup atau ideologi. Hasilnya, suatu konsepsi umum tentang masyarakat yang dengan setia dipatuhi oleh setiap orang kecuali beberapa orang yang dianggap sebagai “penyimpang (deviants)”.
Berkaitan dengan konsepsi ini akhirya dikenal juga dua tipe lainnya yakni propaganda agitasi dan propaganda integrasi. Agitasi berusaha agar orang-orang bersedia memberikan pengorbanan yang besar bagi tujuan yang langsung, termasuk mungkin mengorbankan jiwa dalam usaha mewujudkan cita-cita dalam tahap-tahap yang merupakan suatu rangkaian. Sementara integrasi menggalang kesesuaian dalam mengejar tujuan-tujuan jangka panjang. Melalui propaganda ini, orang-orang mengabdikan diri kepada tujuan-tujuan yang mungkin tidak akan terwujud dalam waktu bertahun-tahun.
Terkait sejumlah tipe propaganda tadi, enam hal berikut adalah sesuatu yang biasa digunakan para propagandis dalam “melakukan tugasnya” dengan memanfaatkan kombinasi kata, tindakan dan logika untuk tujuan persuasif. Keenam hal yang dimaksud adalah name calling, glittering generalities, transfer, testimonial, plain folks, card stacking, dan bandwagon.
a. Name Calling
Adalah pemberian label buruk dengan sengaja kepada gagasan, orang, objek atau tujuan agar orang menolak sesuatu tanpa menguji kenyataannya. Misalnya menuduh lawan pemilihan sebagai “penjahat”.
b. Glittering Generalities
Adalah penggunaan “kata yang baik” untuk melukiskan sesuatu agar mendapat dukungan, lagi-lagi tanpa menyelidiki ketepatan asosiasi itu. Misal AS menyebut operasi mereka ke Afghanistan beberapa waktu lalu sebagai “Operasi Keadilan Tak Terhingga”, dengan misi “hukum tanpa batas”. Begitu juga saat merencanakan serangan ke Irak, AS menyebutnya sebagai misi kemanusiaan untuk membebaskan manusia dari teror senjata pemusnah massal.
c. Transfer
Yakni mengidentifikasi suatu maksud dengan lambang autoritas, misalnya “pilih kembali Mega di Pemilu 2004”.
d. Testimonial
Upaya menggunakan ucapan orang yang dihormati atau dibenci untuk mempromosikan atau meremehkan suatu maksud. Kita mengenalnya dalam dukungan politik oleh surat kabar , tokoh terkenal dll.
e. Plain Folks
Berupa imbauan yang mengatakan bahwa pembicara berpihak kepada khalayaknya dalam usaha bersama yang kolaboratif. Misalnya, “saya salah seorang dari anda, hanya rakyat biasa”.
f. Card Stacking
Memilih dengan teliti pernyataan yang akurat dan tidak akurat, logis dan tak logis dan sebagainya untuk membangun suatu kasus. Misalnya kata-kata “pembunuhan terhadap pemimpin kita, benar-benar menunjukan penghinaan terhadap partai kita !”.
g. Bandwagon
Usaha untuk meyakinkan khalayak akan kepopuleran dan kebenaran tujuan sehingga setiap orang akan “turut naik”.
C. Media Massa
Propaganda politik melalui media massa, sebenarnya merupakan upaya mengemas isu, tujuan, pengaruh, dan kekuasaan politik dengan memanipulir sisi psikologis khalayak. Begitu urgennya media, sehingga Cater menyebutnya sebagai institusi kekuatan keempat dalam suatu pemerintahan atau The Fourth Branch of Government (dalam Sparrow, 1999).
Dalam pelaksanaannya, propaganda di media massa juga tidak bisa mengenyampingkan beberapa hal yang dikenal dalam rumusan Pamela Shoemaker dan Stephen D. Reese (dikutip Susilo, 2000) sebagai model “hierarchy of influence”.
Jika dideskripsikan, sekurang-kurangnya ada lima hal yang mempengaruhi berita media termasuk di dalamnya isi propaganda.
Pertama pengaruh individu-individu pekerja media seperti karakteristik pekerja media, latarbelakang personal dan profesional.
Kedua, pengaruh rutinitas media seperti tengat waktu (deadline), keterbatasan tempat (space) dll.
Ketiga pengaruh organisasional
Keempat pengaruh dari luar organisasi media seperti dari partai politik atau pemerintah yang melakukan propaganda.
Kelima pengaruh ideologi yang merupakan sebuah pengaruh paling menyeluruh dari semua pengaruh yang ada. Di sini ideologi dimaknai sebagai suatu kekuatan yang mampu melakukan kohesivitas kelompok.
Dengan pengaruh dari kelima faktor tadi, efektivitas propaganda akan sangat tergantung pada kemampuan memanfaatkan media massa secara efektif. Tentu saja dengan pemahaman terhadap karakteristik media massa yang dipakai. Sebab, tidak semua media efektif menjadi medium propaganda dalam suatu konteks tertentu.
D. Kondisi Komunikator
Kondisi komunikator adalah hal yang juga sangat penting dicermati karena berpengaruh besar terhadap keberhasilan propaganda. Paling tidak, tiga hal berikut tak boleh luput, yakni status komunikator, kredibilitas komunikator, dan.daya tarik komunikator,
Status Komunikator. Semakin tinggi posisi atau status seseorang di tengah masyarakat, maka akan semakin mampu dia melakukan persuasi. Dengan demikian pemilihan propagandis terutama dalam media massa yang diorientasikan mencapai khalayak yang heterogen membutuhkan mereka yang punya status kuat.
Kredibilitas Komunikator. Sasaran propaganda mempersepsi para komunikator dengan beberapa cara. Sejauh mereka mempersepsi bahwa propagandis itu memiliki keahlian, kompetisi, keandalan, dapat dipercaya dan autoritas, mereka menganggap bahwa komunikator itu kredibel.
Daya Tarik Komunikator. Semakin menarik komunikator maka semakin besar kemungkinan sukses sebuah propagandanya.
E. Pengemasan
Propaganda dalam media massa tentu saja berbeda dengan propaganda yang dilakukan lewat model rapat akbar partai dan ceramah di lapangan. Propaganda di media sangat dibatasi dengan waktu atau space yang disediakan. Oleh karena itu kemampuan pengemasan menjadi hal yang sangat pokok.
Dari perspektif agenda setting, media massa memang tidak dapat mempengaruhi orang untuk mengubah sikap, tetapi media massa cukup berpengaruh terhadap apa yang dipikirkan orang. Ini berarti media massa mempengaruhi persepsi khalayak tentang apa yang anggap penting. Bila AS secara terus menerus memberi label Irak, Saddam Husein, Osama bin Laden sebagai biang teroris maka lambat laun khalayak internasional bisa mempengaruhi konstruk berpikir khalayak internasional mengenai teroris.
Begitu juga saat pemerintah Megawati selalu mempersuasi Bangsa Indonesia bahwa Abu Bakar Baasyir dan Jamah Islamiyah sebagai orang dan kelompok membahayakan, maka kemungkinan besar hal ini berpengaruh pada cara berpikir masyarakat. Sama berpengaruhnya saat media selalu menampilkan tokoh tertentu, maka orang tersebut cenderung dianggap tokoh penting.
Pemetaan Kekuatan
Ada tiga pihak yang biasanya selalu terlibat dalam proses propaganda. Pertama para pelaku propaganda, kedua yang dipropaganda, dan ketiga adalah pihak di luar keduanya yang bisa memperoleh keuntungan atau kerugian dari sukses tidaknya propaganda.
Pihak ketiga, dapat menempatkan dirinya di mana saja. Bisa di pihak propagandis, bisa di pihak yang dikenai propaganda, atau di luar keduanya.
Pengenalan terhadap pihak ketiga ini menjadi penting karena merekalah yang biasanya justru dapat mengacaukan semua prediksi. Namun, karena untuk mengenalinya terkadang cukup sulit, langkah pertama fokuslah pada siapa yang akan menjadi sasaran propaganda.
Jika kita bertindak ebagai propagandis, ada sejumlah informasi yang sebaiknya segera kita ketahui terkait objek dari propaganda kita. Antara lain, kultur budayanya, karakteristik sosialnya, kebiasaan-kebiasaan umumnya, pola kerjanya, serta mimpi-mimpinya.
Para propagandis tentu harus mampu merancang propagandanya dengan sebisa mungkin tampak seperti berorientasi pada pemenuhan faktor-faktor tadi.
Namun, saat yang sama, propagandis juga harus mengenali dirinya. Menghitung bagaimana dan dengan media apa propaganda dapat dengan tepat dilakukan. Sebab, bagaimana pun, unsur persuasi sebaiknya tetap dominan.
Untuk memudahkan perencanaan, sebuah bagan dengan alur yang Anda mengerti dapat Anda buat. Dalam bagan, jangan lupa disertakan pihak mana saja yang Anda masukkan sebagai pihak ketiga. Pihak ketiga dapatdikenali berdasar motif yang mungkin ada.
Teknik Menganalisa Feedback dan Bagaimana Cara Menyikapinya
Feedback adalah reaksi yang muncul begitu proses komunikasi dijalankan. Namun, feedback umumnya hanya berati tiga hal: berpotensi merugikan, berpotensi menguntungkan, atau tak terlalu berpotensi untuk menimbulkan kedua hal tadi hingga untuk saat-saat tertentu dapat diabaikan.
Feedback dianggap menguntungkan ketika reaksi yang muncul sesuai dengan apa yang telah diperhitungkan dan diharapkan. Dianggap merugikan jika yang terjadi sebaliknya. Dianggap tak berpotensi apa pun jika feedback yang muncul tak mempengaruhi rencana secara keseluruhan.
Masalah seringkali timbul ketika propagandis salah mengenali feedback, atau kurang menyeluruh membuat detail reaksi yang mungkin timbul.
Agar terhindar dari ini sebaiknya propagandis menyusun “peta komunikasinya” dalam setidaknya tiga tingkatan sebab, dan tiga tingkatan akibat. Reaksi yang muncul adalah sebab dari reaksi setelahnya. Sebuah reaksi akan memancing timbulnya reaksi lainnya. Buatlah sedetail mungkin peta reaksi, termasuk dari apa yang mungkin muncul dari pihak ketiga.
Dengan semua itu kita dapat memperhitungkan reaksi apa yang akan kita berikan. Buat detail reaksi ini dalam paling tidak tiga kemungkinan reaksi lainnya hingga apapun reaksi yang muncul dapat segeradikenali dan disikapi.
Diposting oleh arief permadi
Mudah Menulis Rilis Berita
ADA banyak cara menyebarluaskan berita keberhasilan pembangunan, atau program-program pemerintah yang tengah dijalankan. Salah-satunya adalah melalui release berita yang disebar melalui sejumlah media massa cetak.
Namun, kerap terjadi, release hanya sampai ke meja redaksi, dan dibuang karena tak menarik. Walhasil berita pembangunan dan program pemerintah tak tersosialisasikan. Rakyat tak tahu apa yang telah atau akan dilakukan pemerintah untuk mereka.
Masalah terjadi, menyusul sering terdapatnya perbedaan persepsi antara pemerintah dan media massa tentang kata 'menarik' ini.
Praktisi public relation tentu harus cerdik. Media massa adalah kekuatan yang tak terhingga jika kita mampu memanfaatkannya dengan baik.
A. Media Relationship
Selain release berita yang menarik, hubungan baik dengan media massa, tak bisa dipungkiri menjadi faktor utama yang mendukung tersebarluaskannya release berita. Salah-satu bentuk pembinaan hubungan baik ini, dapat dilakukan melalui The Human Touch, semacam sentuhan yang diberikan secara personal. Antara lain:
Mengirim kartu lebaran, kartu tahun baru, bahkan kartu ucapan ulang tahun, kelahiran bayi, dan sebagainya pada para wartawan. Desain kartu tersebut sedemikian hingga mengandung informasi penting mengenai isu yang tengah Anda kerjakanA
Setiap awal tahun, kirimi pula mereka kalender yang desainnya juga dirancang khusus lengkap dengan berbagai informasi.
Usahakan pula selalu tepat waktu dalam menyelenggarakan setiap kegiatan yang melibatkan wartawan. Ini akan membuat wartawan merasa bahwa keterbatasan waktu mereka benar-benar Anda hargai.
Bila anda menyelenggarakan konferensi pers, jangan meninggalkan arena konferensi pers sebelum semua wartawan yang hadir pulang.
Jangan pula memberikan 'amplop' pada wartawan yang meliput, karena dua hal. Pertama ini adlah penghargaan pada profesionalitas pekerjaan wartawan. Kedua, apapun informasi yang disampaikan pada konferensi pers pasti akan dimuat selama informasi tersebut layak berita (penting dan menarik bagi masyarakat). Namun, soal 'amplop' ini ada banyak catatannya. Tapi, apapun itu, penghargaan dan perlakuan yang baik jauh lebih dihargai wartawan dibanding beberapa lembar rupiah yang Anda selipkan dalam amplop.
B. Press-briefing
Dalam banyak kasus, media kerap mengutip pernyataan narasumber secara keliru. Penyebabnya bisa karena narasumber tidak menyampaikan informasinya secara jelas. Namun, bisa pula karena wartawan tak memiliki pengetahuan yang cukup untuk memahami masalah.
Terkait yang kedua, pemberian briefing yang memadai kepada wartawan terkait informasi yang akan disebarluaskan menjadi sangat penting untuk dilakukan.
Untuk isu yang baru, press-briefing dengan mengundang para ahli sebagai pembicara bisa dilakukan. Namun, siapkan pula bahan-bahan pendukung yang bisa dengan mudah digunakan wartawan.
Press-briefing juga bisa dilakukan dengan jamuan makan siang yang santai dan terbuka. Hubungan baik akan tercipta dengan cara ini.
Satu hal yang juga perlu diingat, wartawan tak menyukai sesuatu yang bertele-tele. Jawablah pertanyaan wartawan dengan singkat dan jelas. Karena itu, sangat penting mengantisipasi hal ini dengan memperkirakan pertanyaan-pertanyaan apa saja yang mungkin dianjukan wartawan terkait isu yang sedang terjadi.
Bila ternyata pertanyaan yang diajukan tak Anda ketahui jawabannya. Jawablak: "Saya tidak tahu, tapi saya bisa mencarikan informasi itu bagi Anda segera".
Hal lain yang perlu diingat, ulangi pesan utama yang ingin Anda sampaikan sesering mungkin dengan tetap menjaga kewajaran. Bila Anda diliput oleh TV atau radio, bersiaplah untuk menyampaikan pesan dalam waktu singkat lantaran Anda hanya akan on air sekitar 5-10 detik.
C. Menyiapkan Press Release
Secara sederhana, press release bisa diartikan sebagai buletin berita yang ringkas, menarik perhatian, dan menggambarkan suatu event atau isu yang penting/signifikan.
Biasanya, release adalah cara pertama dan termudah yang dipakai untuk menghubungi media. Namun, wartawan akan segera mengabaikan berita-berita tersebut jika apa yang disampaikan pada rilis tidak menarik, tidak enak dibaca, tidak sistematis, dan harus ditulis ulang.
Karena itu pemberi release sebaiknya juga menyiapkan disk hingga wartawan dapat mengopinya lalu menulis berita tanpa perlu menulis ulang. Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan mengirimkan release tersebut melalui email.
a. Jenis Release
Ada beberapa jenis press release yang dikenal selama ini. Di antaranya, release penelitian, release reaksi, release aksi/event, dan release sosialisasi program.
Release penelitian dikeluarkan pada saat mengumumkan hasil penelitian. Untuk hasil yang optimal, release ini dilengkapi dengan press kit yang berisi laporan penelitian, intisari hasil penelitian (maksimal 2 halaman), dua atau tiga foto yang `menggigit', dan kalau sempat beberapa komentar ahli yang independen mengenai hasil penelitian.
Release reaksi, dapat pula dijadikan sebagai cara yang terbaik untuk memblow-up isu di media massa. Bila terjadi sesuatu sehubungan dengan suatu peristiwa, misalnya dugaan korupsi, bencana alam, demonstrasi, dan sebagainya, Anda sebaiknya siap untuk langsung bereaksi. Release jenis ini biasanya sangat singkat, dan disebarkan ketika cerita baru mulai berkembang. Release berisi reaksi lembaga Anda terhadap suatu kejadian/pernyataan penting, yang untuk sesegera mungkin perlu diketahui masyarakat.
Release aksi atau event berisi informasi singkat dan padat mengenai apa dan mengapa aksi dilakukan. Release ini akan lebih bermanfaat untuk wartawan bila dilengkapi dengan informasi latar belakang yang menjelaskan posisi Anda sehubungan dengan aksi.
Release program atau kebijakan, berisi serangkaian program atau kebijakan yang harus segera disosialisasikan. Release ini biasanya akan diabaikan wartawan, kecuali Anda menulisnya dengan sangat menarik bagi sebagian besar pembaca dari media massa yang dikirimi release.
b. Release yang Baik
Untuk dapat menulis release yang baik, hal pertama yang harus dilakukan adalah berpikir dan bertindak seperti seorang wartawan. Berikut hal yang perlu diingat:
Pikirkan sesuatu yang paling menarik dan penting bagi masyarakat (lihat news value pada materi penulisan berita), dan jadikan itu sebagai angle untuk release berita yang akan dibuat.
Gunakan gaya bahasa jurnalistik yang singkat, padat, lugas dan lengkap. Masukkan semua unsur "W" dalam kalimat atau paragraf pertama: Who? What? Why? When? dan Where?.
Sampaikan informasi esensial dalam paragraf pertama dan manfaatkan paragraf berikutnya untuk informasi yang lebih mendalam. Paragraf seyogyanya menyajikan urutan informasi.
Hindarkan pemakaian kutipan langsung dalam paragraf (sebaiknya ini dipakai untuk menyampaikan pokok berita), setelah paragraf pertama, pemanfaatan kutipan yang bertanggung jawab bisa membuat press release lebih menarik dan berbobot.
Cetak release pada letter head. Kertas yang menarik atau logo bisa membantu release anda untuk lebih menarik/menonjol di meja wartawan yang menerimanya. Jika perlu, gunakan fasilitas email, atau copy release Anda pada disk hingga wartawan tak perlu berlelah-lelah menulis kembali.
Jangan ragu-ragu menekankan aspek kontroversial dari suatu yang dikampanyekan.
Cantumkan nomor telepon, dan nama yang bisa dihubungi pada press release. Pastikan orang yang nomornya tercantum pada release adalah orang yang selalu siap menjawab pertanyaan (cukup menguasai isu) dan siap untuk dihubungi.
Gunakan fakta dan angka sesuai kebutuhan. Ini membuat berita lebih solid dan amat membantu wartawan dalam menulis berita.
D. Membuat Press-Kit
Press-kit merupakan koleksi bahan-bahan yang diberikan pada orang-orang media massa ketika melakukan interview, menyelenggarakan konferensi pers, atau di saat-saat organisasi anda menyelenggarakan suatu peristiwa penting. Tujuan suatu press-kit adalah memberikan suatu paket informasi lengkap yang akan diperlukan wartawan guna menulis berita atau feature.
Isi suatu press-kit bervariasi sesuai dengan apa yang anda promosikan, dan target promosi anda. Beberapa hal yang bisa dimasukkan ke dalam press-kit mencakup:
Cover. Kebanyakan press-kit disajikan dalam folder yang bermotif khas organisasi Anda, lengkap dengan logo. Di dalam kantungnya berisi berbagai dokumen dan informasi lainnya. Jika lembaga anda tak punya folder khusus, sediakan label dalam bentuk stiker yang bisa ditempel pada folder yang biasa dijual di toko-toko.
Laporan penelitian atau hasil investigasi atau hasil analisis lembaga.
Informasi latar belakang, biasa disebut backgrounder. Ini bisa berupa brosur lembaga, atau dokumen singkat yang berisi minimal informasi seperti pandangan umum yang menggambarkan bidang-bidang kerja lembaga, sejarah singkat lembaga, informasi mengenai berbagai kampanye yang dilancarkan lembaga, daftar mitra kerja utama, informasi mengenai biografi singkat orang-orang penting di lembaga. Ada berbagai cara untuk menyajikan backgrounder ini. Kadang-kadang orang menyajikannya dalam bentuk teks saja, orang lain menyajikannya lengkap dengan berbagai diagram dan foto. Adapun cara menyajikan informasi yang anda pilih, perlu selalu dijaga agar backgounder ini menunjang pesan-pesan pokok yang ingin disebarluaskan.
Siaran Pers. Siaran pers mengungkapkan alasan utama yang melatarbelakangi event yang anda selenggarakan. Informasi ini sebaiknya diletakkan teratas dalam tumpukan informasi anda, sehingga wartawan langsung melihatnya.
Foto atau slide. Foto dan slide yang baik sangat berharga bagi wartawan yang meliput. Jika anda memutuskan untuk memasukkan gambar berwarna ke dalam kit, pakailah slide. Slide berwarna lebih memudahkan kerja editor foto. Untuk gambar hitam putih, foto cukup memenuhi persyaratan.
E. Konferensi Pers
Salah satu cara yang juga cukup efektif untuk membantu Anda menyebarluaskan informasi kepada publik adalah konferensi pers. Teknik ini akan sangat membantu pada acara peluncuran buku baru, peluncuran hasil penelitian, atau tanggapan atas suatu peristiwa/pernyataan penting.
Sebuah konferensi pers yang baik harus bisa menyalurkan informasi yang lengkap dan akurat sesuai dengan tujuan. Oleh karena itu, informasi ini perlu dipersiapkan dengan sungguh-sungguh dan teliti hingga informasi yang Anda berikan memiliki nilai berita yang tinggi.
Wartawan selalu tertarik pada data yang valid dan baru. Karena itu, lakukanlah konferensi pers hanya bila sudah ada kejelasan yang sangat pasti mengenai apa yang ingin dipublikasikan, temanya sudah harus sangat jelas, dengan argumen yang bisa dipertanggungjawabkan.
Persiapan
Salah satu hal yang harus dipunyai adalah data media massa yang selalu di up to date.
Kirimkan undangan minimal seminggu sebelum konferensi pers berlangsung, dan siapkan orang yang secara proaktif menelepon para redaktur untuk memastikan bahwa media yang diundang mengirim wartawan guna meliput konferensi pers Anda.
Siapkan press-kit. Press-kit berisi bahan-bahan komunikasi penunjang seperti map, notes, bolpoin, stiker, poster, dsb. Sertakan pula informasi penting mengenai apa yang akan diinformasikan dalam press release, lengkap dengan komentar ahli, foto-foto, dan sebagainya.
Sekali lagi, pastikan release yang dibuat senantiasa faktual, singkat, akurat, dan hanya memuat pokok-pokok informasi yang memang dibutuhkan para jurnalis.
Pada hari terakhir periksa semua kelengkapan yang diperlukan, termasuk ruangan, konsumsi, sound sistem, dan sebagainya.
Pelaksanaan
Pada saat pelaksanaan, pastikan bahwa daftar hadir, terutama untuk media massa yang diundang, sudah dipersiapkan. Pastikan pula wartawan yang hadir mengisinya dengan lengkap, seperti nama, media, dan nomor kontak. Ini penting supaya Anda bisa melakukan re-cek setelah konferensi pers selesai.
Jika ada undangan yang tidak hadir, kirimlah masing-masing satu press-kit yang lengkap dengan menggunakan jasa kurir sehingga bisa sampai di tangan wartawan/redaktur yang bersangkutan hari itu juga.
Tindaklanjuti dengan telepon untuk menanyakan apakah sudah diterima, atau masih adakah yang bisa dibantu.
Pastikan juru bicara yang dipilih untuk konferensi pers sungguh-sungguh menguasai isu. Sebisa mungkin semua pertanyaan dijawab. Namun bila ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab secara pasti, akan lebih baik secara jujur diakui. Bila perlu catat nomer fax/telepon/HP wartawan yang bersangkutan dan carikan jawaban segera setelah konferensi pers selesai.
Film pendek atau presentasi slide bisa sangat membantu proses penyampaian informasi dalam konferensi pers.
Sertakan panduan pers (Q and A, atau question and answer) pada press-kit. Dokumen ini mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan kunci yang mungkin diajukan oleh wartawan dan kemudian menjawabnya. Gunakan pendekatan 5 W plus 1 H.
Pasca-konferensi Pers
Kliping semua berita yang dimuat sehubungan dengan konferensi pers. Lakukan analisis berita, apakah berita yang dimuat sesuai dengan tujuan, atau malah justru berdampak negatif. Pikirkan cara mengatasinya, sebab wartawan terkadang juga keliru membuat berita. Pelurusan informasi bisa dilakukan dengan mengirim surat ke editor.
Sering kali, wartawan juga akan mencari perspektif lain untuk melengkapi beritanya. Prespektif lain biasanya akan diperoleh darii pihak yang kontra. Jangan terburu-buru memberikan reaksi. Cermati apa yang diungkapkan oleh pihak yang kontra tersebut. Timbang secara cermat untung ruginya setiap reaksi yang akan diberikan.
F. Menentukan Media
Hal yang tak kalah penting untuk dicermati adalah memilih jenis media massa yang akan dipakai hingga informasi dapat disebar pada sasaran yang tepat dengan cara yang efektif. Untuk itu, beberapa hal juga perlu diketahui.
Berdasarkan jenisnya, media terbagi menjadi kantor berita (wires), koran, majalah, TV, radio, dsb.
Berdasarkan kawasan paparannya terbagi pada media internasional, regional, nasional, dan lokal.
Berdasarkan timeline publikasi/siaran, terbagi bada banyak katagori, mulai dari ukuran menit, jam, harian, mingguan dan bulanan. Sementara berdasar fokus yang diambil, berupa berita, bisnis, feature, hiburan, dsb.
Kantor Berita
Beberapa contoh kantor beritan internasional adalah Reuters, Associated Press (AP), Agence France Presse (AFP), United Press International (UPI). Indonesia juga memiliki kantor berita yaitu Antara, detikcom, dan lain-lain. Masing-masing kantor berita tentu memiliki keunikan, akan tetapi pada umumnya memiliki fungsi yang sama, yaitu mengirimkan tulisan (copy) dan foto pada para pelanggan mereka di seluruh dunia.
Media lain sangat membutuhkan keberadaan kantor berita internasional ini. Stasiun-stasiun TV misalnya memanfaatkan kantor berita untuk mengikuti perkembangan berita-berita baru yang merebak di seluruh dunia untuk perencanaan programnya. Copy atau foto yang disalurkan suatu kantor berita memiliki kesempatan besar untuk mencapai jutaan orang di seluruh penjuru dunia.
Kantor-kantor berita internasional yang utama, semuanya mempunyai perwakilan dan reporter di Jakarta, kenali siapa mereka. Mungkin juga mereka memiliki stringer di kota-kota lain di tanah air.
Koran
Hal penting yang perlu diingat tentang koran, adalah bahwa meskipun koran selalu dipacu untuk memuat hard news, terutama di halaman depan, akan tetapi di halaman-halaman lain terdapat berbagai bagian yang bisa dimanfaatkan.
Misalnya bagian bisnis, lifestyle, berita daerah, entertainment, dan koran minggu. Juga ada bagian surat pembaca. Halaman opini juga sangat penting dan bisa dimanfaatkan. Tulisan opini umumnya berkisar antara 500 hingga 800 kata, dan sebaiknya memberikan informasi yang meyakinkan untuk pembaca awam.
Majalah
Bagi para praktisi kehumasan, majalah merupakan outlet informasi yang penting terutama untuk informasi yang tidak bersifat hard news. Cobalah mulai menjalin hubungan dengan berbagai majalah ini. Melalui berbagai majalah Anda bisa menjangkau pembaca yang belum tentu terjangkau oleh berita koran, radio, dan TV.
Televisi
Ada banyak ragam outlet TV, di antaranya: international wire feeds (misalnya Reuters TV), international broadcasters (CNN, BBC, dsb), national broadcasters (RCTI, SCTV, Indosiar, ANTV, Metro TV, Trans TV, Trans 7, Global TV, TPI, PJTV, STV, Bandung TV, TVRI, dan lain-lain).
Radio
Di Indonesia ada ratusan stasiun radio. Radio juga menjangkau jauh lebih banyak orang dibandingkan media massa lainnya di negeri ini. Kenali semua stasiun radio di daerah Anda. Jika bisa, terbitkan buletin informasi secara rutin sebagai servis Anda pada semua stasiun radio yang ada. Upayakan faktual, singkat, ringan, padat, dan menarik. Para pembawa acara radio biasanya membutuhkan informasi ringan untuk diobrolkan dari waktu ke waktu. Manfaatkan peluang ini dengan baik.
Diposting oleh arief permadi
ADA banyak cara menyebarluaskan berita keberhasilan pembangunan, atau program-program pemerintah yang tengah dijalankan. Salah-satunya adalah melalui release berita yang disebar melalui sejumlah media massa cetak.
Namun, kerap terjadi, release hanya sampai ke meja redaksi, dan dibuang karena tak menarik. Walhasil berita pembangunan dan program pemerintah tak tersosialisasikan. Rakyat tak tahu apa yang telah atau akan dilakukan pemerintah untuk mereka.
Masalah terjadi, menyusul sering terdapatnya perbedaan persepsi antara pemerintah dan media massa tentang kata 'menarik' ini.
Praktisi public relation tentu harus cerdik. Media massa adalah kekuatan yang tak terhingga jika kita mampu memanfaatkannya dengan baik.
A. Media Relationship
Selain release berita yang menarik, hubungan baik dengan media massa, tak bisa dipungkiri menjadi faktor utama yang mendukung tersebarluaskannya release berita. Salah-satu bentuk pembinaan hubungan baik ini, dapat dilakukan melalui The Human Touch, semacam sentuhan yang diberikan secara personal. Antara lain:
Mengirim kartu lebaran, kartu tahun baru, bahkan kartu ucapan ulang tahun, kelahiran bayi, dan sebagainya pada para wartawan. Desain kartu tersebut sedemikian hingga mengandung informasi penting mengenai isu yang tengah Anda kerjakanA
Setiap awal tahun, kirimi pula mereka kalender yang desainnya juga dirancang khusus lengkap dengan berbagai informasi.
Usahakan pula selalu tepat waktu dalam menyelenggarakan setiap kegiatan yang melibatkan wartawan. Ini akan membuat wartawan merasa bahwa keterbatasan waktu mereka benar-benar Anda hargai.
Bila anda menyelenggarakan konferensi pers, jangan meninggalkan arena konferensi pers sebelum semua wartawan yang hadir pulang.
Jangan pula memberikan 'amplop' pada wartawan yang meliput, karena dua hal. Pertama ini adlah penghargaan pada profesionalitas pekerjaan wartawan. Kedua, apapun informasi yang disampaikan pada konferensi pers pasti akan dimuat selama informasi tersebut layak berita (penting dan menarik bagi masyarakat). Namun, soal 'amplop' ini ada banyak catatannya. Tapi, apapun itu, penghargaan dan perlakuan yang baik jauh lebih dihargai wartawan dibanding beberapa lembar rupiah yang Anda selipkan dalam amplop.
B. Press-briefing
Dalam banyak kasus, media kerap mengutip pernyataan narasumber secara keliru. Penyebabnya bisa karena narasumber tidak menyampaikan informasinya secara jelas. Namun, bisa pula karena wartawan tak memiliki pengetahuan yang cukup untuk memahami masalah.
Terkait yang kedua, pemberian briefing yang memadai kepada wartawan terkait informasi yang akan disebarluaskan menjadi sangat penting untuk dilakukan.
Untuk isu yang baru, press-briefing dengan mengundang para ahli sebagai pembicara bisa dilakukan. Namun, siapkan pula bahan-bahan pendukung yang bisa dengan mudah digunakan wartawan.
Press-briefing juga bisa dilakukan dengan jamuan makan siang yang santai dan terbuka. Hubungan baik akan tercipta dengan cara ini.
Satu hal yang juga perlu diingat, wartawan tak menyukai sesuatu yang bertele-tele. Jawablah pertanyaan wartawan dengan singkat dan jelas. Karena itu, sangat penting mengantisipasi hal ini dengan memperkirakan pertanyaan-pertanyaan apa saja yang mungkin dianjukan wartawan terkait isu yang sedang terjadi.
Bila ternyata pertanyaan yang diajukan tak Anda ketahui jawabannya. Jawablak: "Saya tidak tahu, tapi saya bisa mencarikan informasi itu bagi Anda segera".
Hal lain yang perlu diingat, ulangi pesan utama yang ingin Anda sampaikan sesering mungkin dengan tetap menjaga kewajaran. Bila Anda diliput oleh TV atau radio, bersiaplah untuk menyampaikan pesan dalam waktu singkat lantaran Anda hanya akan on air sekitar 5-10 detik.
C. Menyiapkan Press Release
Secara sederhana, press release bisa diartikan sebagai buletin berita yang ringkas, menarik perhatian, dan menggambarkan suatu event atau isu yang penting/signifikan.
Biasanya, release adalah cara pertama dan termudah yang dipakai untuk menghubungi media. Namun, wartawan akan segera mengabaikan berita-berita tersebut jika apa yang disampaikan pada rilis tidak menarik, tidak enak dibaca, tidak sistematis, dan harus ditulis ulang.
Karena itu pemberi release sebaiknya juga menyiapkan disk hingga wartawan dapat mengopinya lalu menulis berita tanpa perlu menulis ulang. Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan mengirimkan release tersebut melalui email.
a. Jenis Release
Ada beberapa jenis press release yang dikenal selama ini. Di antaranya, release penelitian, release reaksi, release aksi/event, dan release sosialisasi program.
Release penelitian dikeluarkan pada saat mengumumkan hasil penelitian. Untuk hasil yang optimal, release ini dilengkapi dengan press kit yang berisi laporan penelitian, intisari hasil penelitian (maksimal 2 halaman), dua atau tiga foto yang `menggigit', dan kalau sempat beberapa komentar ahli yang independen mengenai hasil penelitian.
Release reaksi, dapat pula dijadikan sebagai cara yang terbaik untuk memblow-up isu di media massa. Bila terjadi sesuatu sehubungan dengan suatu peristiwa, misalnya dugaan korupsi, bencana alam, demonstrasi, dan sebagainya, Anda sebaiknya siap untuk langsung bereaksi. Release jenis ini biasanya sangat singkat, dan disebarkan ketika cerita baru mulai berkembang. Release berisi reaksi lembaga Anda terhadap suatu kejadian/pernyataan penting, yang untuk sesegera mungkin perlu diketahui masyarakat.
Release aksi atau event berisi informasi singkat dan padat mengenai apa dan mengapa aksi dilakukan. Release ini akan lebih bermanfaat untuk wartawan bila dilengkapi dengan informasi latar belakang yang menjelaskan posisi Anda sehubungan dengan aksi.
Release program atau kebijakan, berisi serangkaian program atau kebijakan yang harus segera disosialisasikan. Release ini biasanya akan diabaikan wartawan, kecuali Anda menulisnya dengan sangat menarik bagi sebagian besar pembaca dari media massa yang dikirimi release.
b. Release yang Baik
Untuk dapat menulis release yang baik, hal pertama yang harus dilakukan adalah berpikir dan bertindak seperti seorang wartawan. Berikut hal yang perlu diingat:
Pikirkan sesuatu yang paling menarik dan penting bagi masyarakat (lihat news value pada materi penulisan berita), dan jadikan itu sebagai angle untuk release berita yang akan dibuat.
Gunakan gaya bahasa jurnalistik yang singkat, padat, lugas dan lengkap. Masukkan semua unsur "W" dalam kalimat atau paragraf pertama: Who? What? Why? When? dan Where?.
Sampaikan informasi esensial dalam paragraf pertama dan manfaatkan paragraf berikutnya untuk informasi yang lebih mendalam. Paragraf seyogyanya menyajikan urutan informasi.
Hindarkan pemakaian kutipan langsung dalam paragraf (sebaiknya ini dipakai untuk menyampaikan pokok berita), setelah paragraf pertama, pemanfaatan kutipan yang bertanggung jawab bisa membuat press release lebih menarik dan berbobot.
Cetak release pada letter head. Kertas yang menarik atau logo bisa membantu release anda untuk lebih menarik/menonjol di meja wartawan yang menerimanya. Jika perlu, gunakan fasilitas email, atau copy release Anda pada disk hingga wartawan tak perlu berlelah-lelah menulis kembali.
Jangan ragu-ragu menekankan aspek kontroversial dari suatu yang dikampanyekan.
Cantumkan nomor telepon, dan nama yang bisa dihubungi pada press release. Pastikan orang yang nomornya tercantum pada release adalah orang yang selalu siap menjawab pertanyaan (cukup menguasai isu) dan siap untuk dihubungi.
Gunakan fakta dan angka sesuai kebutuhan. Ini membuat berita lebih solid dan amat membantu wartawan dalam menulis berita.
D. Membuat Press-Kit
Press-kit merupakan koleksi bahan-bahan yang diberikan pada orang-orang media massa ketika melakukan interview, menyelenggarakan konferensi pers, atau di saat-saat organisasi anda menyelenggarakan suatu peristiwa penting. Tujuan suatu press-kit adalah memberikan suatu paket informasi lengkap yang akan diperlukan wartawan guna menulis berita atau feature.
Isi suatu press-kit bervariasi sesuai dengan apa yang anda promosikan, dan target promosi anda. Beberapa hal yang bisa dimasukkan ke dalam press-kit mencakup:
Cover. Kebanyakan press-kit disajikan dalam folder yang bermotif khas organisasi Anda, lengkap dengan logo. Di dalam kantungnya berisi berbagai dokumen dan informasi lainnya. Jika lembaga anda tak punya folder khusus, sediakan label dalam bentuk stiker yang bisa ditempel pada folder yang biasa dijual di toko-toko.
Laporan penelitian atau hasil investigasi atau hasil analisis lembaga.
Informasi latar belakang, biasa disebut backgrounder. Ini bisa berupa brosur lembaga, atau dokumen singkat yang berisi minimal informasi seperti pandangan umum yang menggambarkan bidang-bidang kerja lembaga, sejarah singkat lembaga, informasi mengenai berbagai kampanye yang dilancarkan lembaga, daftar mitra kerja utama, informasi mengenai biografi singkat orang-orang penting di lembaga. Ada berbagai cara untuk menyajikan backgrounder ini. Kadang-kadang orang menyajikannya dalam bentuk teks saja, orang lain menyajikannya lengkap dengan berbagai diagram dan foto. Adapun cara menyajikan informasi yang anda pilih, perlu selalu dijaga agar backgounder ini menunjang pesan-pesan pokok yang ingin disebarluaskan.
Siaran Pers. Siaran pers mengungkapkan alasan utama yang melatarbelakangi event yang anda selenggarakan. Informasi ini sebaiknya diletakkan teratas dalam tumpukan informasi anda, sehingga wartawan langsung melihatnya.
Foto atau slide. Foto dan slide yang baik sangat berharga bagi wartawan yang meliput. Jika anda memutuskan untuk memasukkan gambar berwarna ke dalam kit, pakailah slide. Slide berwarna lebih memudahkan kerja editor foto. Untuk gambar hitam putih, foto cukup memenuhi persyaratan.
E. Konferensi Pers
Salah satu cara yang juga cukup efektif untuk membantu Anda menyebarluaskan informasi kepada publik adalah konferensi pers. Teknik ini akan sangat membantu pada acara peluncuran buku baru, peluncuran hasil penelitian, atau tanggapan atas suatu peristiwa/pernyataan penting.
Sebuah konferensi pers yang baik harus bisa menyalurkan informasi yang lengkap dan akurat sesuai dengan tujuan. Oleh karena itu, informasi ini perlu dipersiapkan dengan sungguh-sungguh dan teliti hingga informasi yang Anda berikan memiliki nilai berita yang tinggi.
Wartawan selalu tertarik pada data yang valid dan baru. Karena itu, lakukanlah konferensi pers hanya bila sudah ada kejelasan yang sangat pasti mengenai apa yang ingin dipublikasikan, temanya sudah harus sangat jelas, dengan argumen yang bisa dipertanggungjawabkan.
Persiapan
Salah satu hal yang harus dipunyai adalah data media massa yang selalu di up to date.
Kirimkan undangan minimal seminggu sebelum konferensi pers berlangsung, dan siapkan orang yang secara proaktif menelepon para redaktur untuk memastikan bahwa media yang diundang mengirim wartawan guna meliput konferensi pers Anda.
Siapkan press-kit. Press-kit berisi bahan-bahan komunikasi penunjang seperti map, notes, bolpoin, stiker, poster, dsb. Sertakan pula informasi penting mengenai apa yang akan diinformasikan dalam press release, lengkap dengan komentar ahli, foto-foto, dan sebagainya.
Sekali lagi, pastikan release yang dibuat senantiasa faktual, singkat, akurat, dan hanya memuat pokok-pokok informasi yang memang dibutuhkan para jurnalis.
Pada hari terakhir periksa semua kelengkapan yang diperlukan, termasuk ruangan, konsumsi, sound sistem, dan sebagainya.
Pelaksanaan
Pada saat pelaksanaan, pastikan bahwa daftar hadir, terutama untuk media massa yang diundang, sudah dipersiapkan. Pastikan pula wartawan yang hadir mengisinya dengan lengkap, seperti nama, media, dan nomor kontak. Ini penting supaya Anda bisa melakukan re-cek setelah konferensi pers selesai.
Jika ada undangan yang tidak hadir, kirimlah masing-masing satu press-kit yang lengkap dengan menggunakan jasa kurir sehingga bisa sampai di tangan wartawan/redaktur yang bersangkutan hari itu juga.
Tindaklanjuti dengan telepon untuk menanyakan apakah sudah diterima, atau masih adakah yang bisa dibantu.
Pastikan juru bicara yang dipilih untuk konferensi pers sungguh-sungguh menguasai isu. Sebisa mungkin semua pertanyaan dijawab. Namun bila ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab secara pasti, akan lebih baik secara jujur diakui. Bila perlu catat nomer fax/telepon/HP wartawan yang bersangkutan dan carikan jawaban segera setelah konferensi pers selesai.
Film pendek atau presentasi slide bisa sangat membantu proses penyampaian informasi dalam konferensi pers.
Sertakan panduan pers (Q and A, atau question and answer) pada press-kit. Dokumen ini mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan kunci yang mungkin diajukan oleh wartawan dan kemudian menjawabnya. Gunakan pendekatan 5 W plus 1 H.
Pasca-konferensi Pers
Kliping semua berita yang dimuat sehubungan dengan konferensi pers. Lakukan analisis berita, apakah berita yang dimuat sesuai dengan tujuan, atau malah justru berdampak negatif. Pikirkan cara mengatasinya, sebab wartawan terkadang juga keliru membuat berita. Pelurusan informasi bisa dilakukan dengan mengirim surat ke editor.
Sering kali, wartawan juga akan mencari perspektif lain untuk melengkapi beritanya. Prespektif lain biasanya akan diperoleh darii pihak yang kontra. Jangan terburu-buru memberikan reaksi. Cermati apa yang diungkapkan oleh pihak yang kontra tersebut. Timbang secara cermat untung ruginya setiap reaksi yang akan diberikan.
F. Menentukan Media
Hal yang tak kalah penting untuk dicermati adalah memilih jenis media massa yang akan dipakai hingga informasi dapat disebar pada sasaran yang tepat dengan cara yang efektif. Untuk itu, beberapa hal juga perlu diketahui.
Berdasarkan jenisnya, media terbagi menjadi kantor berita (wires), koran, majalah, TV, radio, dsb.
Berdasarkan kawasan paparannya terbagi pada media internasional, regional, nasional, dan lokal.
Berdasarkan timeline publikasi/siaran, terbagi bada banyak katagori, mulai dari ukuran menit, jam, harian, mingguan dan bulanan. Sementara berdasar fokus yang diambil, berupa berita, bisnis, feature, hiburan, dsb.
Kantor Berita
Beberapa contoh kantor beritan internasional adalah Reuters, Associated Press (AP), Agence France Presse (AFP), United Press International (UPI). Indonesia juga memiliki kantor berita yaitu Antara, detikcom, dan lain-lain. Masing-masing kantor berita tentu memiliki keunikan, akan tetapi pada umumnya memiliki fungsi yang sama, yaitu mengirimkan tulisan (copy) dan foto pada para pelanggan mereka di seluruh dunia.
Media lain sangat membutuhkan keberadaan kantor berita internasional ini. Stasiun-stasiun TV misalnya memanfaatkan kantor berita untuk mengikuti perkembangan berita-berita baru yang merebak di seluruh dunia untuk perencanaan programnya. Copy atau foto yang disalurkan suatu kantor berita memiliki kesempatan besar untuk mencapai jutaan orang di seluruh penjuru dunia.
Kantor-kantor berita internasional yang utama, semuanya mempunyai perwakilan dan reporter di Jakarta, kenali siapa mereka. Mungkin juga mereka memiliki stringer di kota-kota lain di tanah air.
Koran
Hal penting yang perlu diingat tentang koran, adalah bahwa meskipun koran selalu dipacu untuk memuat hard news, terutama di halaman depan, akan tetapi di halaman-halaman lain terdapat berbagai bagian yang bisa dimanfaatkan.
Misalnya bagian bisnis, lifestyle, berita daerah, entertainment, dan koran minggu. Juga ada bagian surat pembaca. Halaman opini juga sangat penting dan bisa dimanfaatkan. Tulisan opini umumnya berkisar antara 500 hingga 800 kata, dan sebaiknya memberikan informasi yang meyakinkan untuk pembaca awam.
Majalah
Bagi para praktisi kehumasan, majalah merupakan outlet informasi yang penting terutama untuk informasi yang tidak bersifat hard news. Cobalah mulai menjalin hubungan dengan berbagai majalah ini. Melalui berbagai majalah Anda bisa menjangkau pembaca yang belum tentu terjangkau oleh berita koran, radio, dan TV.
Televisi
Ada banyak ragam outlet TV, di antaranya: international wire feeds (misalnya Reuters TV), international broadcasters (CNN, BBC, dsb), national broadcasters (RCTI, SCTV, Indosiar, ANTV, Metro TV, Trans TV, Trans 7, Global TV, TPI, PJTV, STV, Bandung TV, TVRI, dan lain-lain).
Radio
Di Indonesia ada ratusan stasiun radio. Radio juga menjangkau jauh lebih banyak orang dibandingkan media massa lainnya di negeri ini. Kenali semua stasiun radio di daerah Anda. Jika bisa, terbitkan buletin informasi secara rutin sebagai servis Anda pada semua stasiun radio yang ada. Upayakan faktual, singkat, ringan, padat, dan menarik. Para pembawa acara radio biasanya membutuhkan informasi ringan untuk diobrolkan dari waktu ke waktu. Manfaatkan peluang ini dengan baik.
Diposting oleh arief permadi

Dasar-Dasar Jurnalistik
Pesatnya kemajuan media informasi dewasa ini cukup memberikan kemajuan yang signifikan. Media cetak maupun elektronik pun saling bersaing kecepatan sehingga tidak ayal bila si pemburu berita dituntut kreativitasnya dalam penyampaian informasi. Penguasaan dasar-dasar pengetahuan jurnalistik merupakan modal yang amat penting manakala kita terjun di dunia ini. Keberadaan media tidak lagi sebatas penyampai informasi yang aktual kepada masyarakat, tapi media juga mempunyai tanggung jawab yang berat dalam menampilkan fakta-fakta untuk selalu bertindak objektif dalam setiap pemberitaannya.
Apa Itu Jurnalistik?
Menurut Kris Budiman, jurnalistik (journalistiek, Belanda) bisa dibatasi secara singkat sebagai kegiatan penyiapan, penulisan, penyuntingan, dan penyampaian berita kepada khalayak melalui saluran media tertentu. Jurnalistik mencakup kegiatan dari peliputan sampai kepada penyebarannya kepada masyarakat. Sebelumnya, jurnalistik dalam pengertian sempit disebut juga dengan publikasi secara cetak. Dewasa ini pengertian tersebut tidak hanya sebatas melalui media cetak seperti surat kabar, majalah, dsb., namun meluas menjadi media elektronik seperti radio atau televisi. Berdasarkan media yang digunakan meliputi jurnalistik cetak (print journalism), elektronik (electronic journalism). Akhir-akhir ini juga telah berkembang jurnalistik secara tersambung (online journalism).
Jurnalistik atau jurnalisme, menurut Luwi Ishwara (2005), mempunyai ciri-ciri yang penting untuk kita perhatikan.
a. Skeptis
Skeptis adalah sikap untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang diterima, dan mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah tertipu. Inti dari skeptis adalah keraguan. Media janganlah puas dengan permukaan sebuah peristiwa serta enggan untuk mengingatkan kekurangan yang ada di dalam masyarakat. Wartawan haruslah terjun ke lapangan, berjuang, serta menggali hal-hal yang eksklusif.
b. Bertindak (action)
Wartawan tidak menunggu sampai peristiwa itu muncul, tetapi ia akan mencari dan mengamati dengan ketajaman naluri seorang wartawan.
c. Berubah
Perubahan merupakan hukum utama jurnalisme. Media bukan lagi sebagai penyalur informasi, tapi fasilitator, penyaring dan pemberi makna dari sebuah informasi.
d. Seni dan Profesi
Wartawan melihat dengan mata yang segar pada setiap peristiwa untuk menangkap aspek-aspek yang unik.
e. Peran Pers
Pers sebagai pelapor, bertindak sebagai mata dan telinga publik, melaporkan peristiwa-peristiwa di luar pengetahuan masyarakat dengan netral dan tanpa prasangka. Selain itu, pers juga harus berperan sebagai interpreter, wakil publik, peran jaga, dan pembuat kebijaksanaan serta advokasi.
Berita
Ketika membahas mengenai jurnalistik, pikiran kita tentu akan langsung tertuju pada kata "berita" atau "news". Lalu apa itu berita? Berita (news) berdasarkan batasan dari Kris Budiman adalah laporan mengenai suatu peristiwa atau kejadian yang terbaru (aktual); laporan mengenai fakta-fakta yang aktual, menarik perhatian, dinilai penting, atau luar biasa. "News" sendiri mengandung pengertian yang penting, yaitu dari kata "new" yang artinya adalah "baru". Jadi, berita harus mempunyai nilai kebaruan atau selalu mengedepankan aktualitas. Dari kata "news" sendiri, kita bisa menjabarkannya dengan "north", "east", "west", dan "south". Bahwa si pencari berita dalam mendapatkan informasi harus dari keempat sumber arah mata angin tersebut.
Selanjutnya berdasarkan jenisnya, Kris Budiman membedakannya menjadi "straight news" yang berisi laporan peristiwa politik, ekonomi, masalah sosial, dan kriminalitas, sering disebut sebagai berita keras (hard news). Sementara "straight news" tentang hal-hal semisal olahraga, kesenian, hiburan, hobi, elektronika, dsb., dikategorikan sebagai berita ringan atau lunak (soft news). Di samping itu, dikenal juga jenis berita yang dinamakan "feature" atau berita kisah. Jenis ini lebih bersifat naratif, berkisah mengenai aspek-aspek insani (human interest). Sebuah "feature" tidak terlalu terikat pada nilai-nilai berita dan faktualitas. Ada lagi yang dinamakan berita investigatif (investigative news), berupa hasil penyelidikan seorang atau satu tim wartawan secara lengkap dan mendalam dalam pelaporannya.
Nilai Berita
Sebuah berita jika disajikan haruslah memuat nilai berita di dalamnya. Nilai berita itu mencakup beberapa hal, seperti berikut.
Objektif: berdasarkan fakta, tidak memihak.
Aktual: terbaru, belum "basi".
Luar biasa: besar, aneh, janggal, tidak umum.
Penting: pengaruh atau dampaknya bagi orang banyak; menyangkut orang penting/terkenal.
Jarak: familiaritas, kedekatan (geografis, kultural, psikologis).
Lima nilai berita di atas menurut Kris Budiman sudah dianggap cukup dalam menyusun berita. Namun, Masri Sareb Putra dalam bukunya "Teknik Menulis Berita dan Feature", malah memberikan dua belas nilai berita dalam menulis berita (2006: 33). Dua belas hal tersebut di antaranya adalah:
sesuatu yang unik,
sesuatu yang luar biasa,
sesuatu yang langka,
sesuatu yang dialami/dilakukan/menimpa orang (tokoh) penting,
menyangkut keinginan publik,
yang tersembunyi,
sesuatu yang sulit untuk dimasuki,
sesuatu yang belum banyak/umum diketahui,
pemikiran dari tokoh penting,
komentar/ucapan dari tokoh penting,
kelakuan/kehidupan tokoh penting, dan
hal lain yang luar biasa.
Dalam kenyataannya, tidak semua nilai itu akan kita pakai dalam sebuah penulisan berita. Hal terpenting adalah adanya aktualitas dan pengedepanan objektivitas yang terlihat dalam isi tersebut.
Anatomi Berita dan Unsur-Unsur
Seperti tubuh kita, berita juga mempunyai bagian-bagian, di antaranya adalah sebagai berikut.
Judul atau kepala berita (headline).
Baris tanggal (dateline).
Teras berita (lead atau intro).
Tubuh berita (body).
Bagian-bagian di atas tersusun secara terpadu dalam sebuah berita. Susunan yang paling sering didengar ialah susunan piramida terbalik. Metode ini lebih menonjolkan inti berita saja. Atau dengan kata lain, lebih menekankan hal-hal yang umum dahulu baru ke hal yang khusus. Tujuannya adalah untuk memudahkan atau mempercepat pembaca dalam mengetahui apa yang diberitakan; juga untuk memudahkan para redaktur memotong bagian tidak/kurang penting yang terletak di bagian paling bawah dari tubuh berita (Budiman 2005) . Dengan selalu mengedepankan unsur-unsur yang berupa fakta di tiap bagiannya, terutama pada tubuh berita. Dengan senantiasa meminimalkan aspek nonfaktual yang pada kecenderuangan akan menjadi sebuah opini.
Untuk itu, sebuah berita harus memuat "fakta" yang di dalamnya terkandung unsur-unsur 5W + 1H. Hal ini senada dengan apa yang dimaksudkan oleh Lasswell, salah seorang pakar komunikasi (Masri Sareb 2006: 38).
Who - siapa yang terlibat di dalamnya?
What - apa yang terjadi di dalam suatu peristiwa?
Where - di mana terjadinya peristiwa itu?
Why - mengapa peristiwa itu terjadi?
When - kapan terjadinya?
How - bagaimana terjadinya?
Tidak hanya sebatas berita, bentuk jurnalistik lain, khususnya dalam media cetak, adalah berupa opini. Bentuk opini ini dapat berupa tajuk rencana (editorial), artikel opini atau kolom (column), pojok dan surat pembaca.
Sumber Berita
Hal penting lain yang dibutuhkan dalam sebuah proses jurnalistik adalah pada sumber berita. Ada beberapa petunjuk yang dapat membantu pengumpulan informasi, sebagaimana diungkapkan oleh Eugene J. Webb dan Jerry R. Salancik (Luwi Iswara 2005: 67) berikut ini.
Observasi langsung dan tidak langsung dari situasi berita.
Proses wawancara.
Pencarian atau penelitian bahan-bahan melalui dokumen publik.
Partisipasi dalam peristiwa.
Kiranya tulisan singkat tentang dasar-dasar jurnalistik di atas akan lebih membantu kita saat mengerjakan proses kreatif kita dalam penulisan jurnalistik.
Kristina Dwi Lestari )
Sumber bacaan:
Budiman, Kris. 2005. "Dasar-Dasar Jurnalistik: Makalah yang disampaikan dalam Pelatihan Jurnalistik -- Info Jawa 12-15 Desember 2005. Dalam www.infojawa.org.
Ishwara, Luwi. 2005. "Catatan-Catatan Jurnalisme Dasar". Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Putra, R. Masri Sareb. 2006. "Teknik Menulis Berita dan Feature". Jakarta: Indeks


